Selamat Pagi,
Hei, bagaimana kabarnya? Sudah mulai melangkah menuju impian kesuksesanmu?
Wow, bagus!!! Teruslah melangkah dan jangan terkejut ketika nanti ditengah perjalanan bertemu dengan hambatan yang merintangi jalanmu.
Coba kita renungkan. Bukankah jalanan tak ada yang betul-betul rata dan lurus? Terkadang jalan yang kita lalui penuh onak dan duri. Adakalanya jalanan menanjak dan menguji seberapa kuat tekad kita untuk terus melakukan pendakian. Ada saatnya jalanan menurun, ketika kita tidak berhati-hati memegang kendali justru akan membuat jatuh tersungkur. Pada bagian tertentu jalanan begitu berliku, menuntut kewaspadaan extra agar kita tak terperosok akibat keluar jalur.
Seperti itu juga ketika kita sudah memulai langkah menuju kesuksesan yang kita impikan. Bukan hal mudah untuk menggapainya. Apalagi ketika rintangan mulai datang menghadang. Ada yang meragukan keseriusan kita, ada yang menertawakan keinginan muluk kita. Ketika kita mudah terpengaruh oleh kata-kata sumbang, menjadi mundur karena omongan orang, maka bisa dipastikan kita tak kan pernah sampai pada cita-cita yang kita tuju.
Tak perlu membenci mereka. Karena kita masih memerlukan mereka untuk menjadi penonton yang menyaksikan kesuksesan kita kelak. Meski entah bagaimana ekspresi mereka nantinya saat kita merayakan kemenangan atas hal yang kita perjuangkan.
Tak hanya itu, terkadang tantangan yang kita lihat juga tak kalah berat. Keterbatasan pengetahuan, persaingan yang ketat. Semakin menguji kita seberapa besar nyali kita menaklukkan semuanya. Di sinilah kita berhadapan dengan musuh terbesar. Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa dan bukan yang lainnya. Karena musuh terbesar itu adalah "diri sendiri". Keterbatasan pengetahuan dapat dikalahkan dengan mau bertanya dan terus belajar. Persaingan yang ketat dapat disikapi dengan terus bertahan, sabar berada dalam antrian, dan berupaya untuk merangsek maju. Dan itu semua kuncinya adalah menaklukkan diri sendiri.
Menuju kesuksesan tak harus tergesa-gesa. Karena kesuksesan yang instan terkadang justru menghawatirkan. Berbeda dengan yang mengalami proses tumbuh. Seperti halnya pohon. Sebelum menjulang ke atas, dia menguatkan akar terlebih dahulu. Membuat pertahanan dengan cengkraman erat ke dalam bumi, baru dia tumbuh tinggi ke atas. Maka, ketika pohon yang tinggi harus berhadapan dengan angin yang semakin besar, dia hanya meliuk secara dinamis, bergerak mengikuti kemana arah angin, dan sesudahnya masih bisa berdiri dengan kokoh, dengan gagah, tanpa harus tumbang meski badai yang menerjang.
Teruslah berproses dengan sabar. Melewati semua tahapan yang harus dilalui. Melibas rintangan, melambung tinggi melebihi tantangan yang diberikan. Meski itu melalui proses berkali-kali. Karena saat kita terjatuh, kita masih mempunyai kesempatan untuk bangkit kembali. Jatuh bukan berarti kalah. Karena kalah yang sesungguhnya adalah ketika kita memutuskan untuk menyerah dan berhenti melangkah.
Selamat berproses,
Semoga suatu saat kita bisa berjumpa di puncak.
Salam.
bu is emang kerennn... tulisan yg sangat memotivasi. semangat bu..
BalasHapus