Rabu, 25 Oktober 2017

KETIKA RINTANGAN DAN TANTANGAN DATANG MENGHADANG

Hasil gambar untuk tantangan dan hambatan

Selamat Pagi,
Hei, bagaimana kabarnya? Sudah mulai melangkah menuju impian kesuksesanmu? 
Wow, bagus!!! Teruslah melangkah dan jangan terkejut ketika nanti ditengah perjalanan bertemu dengan hambatan yang merintangi jalanmu.

Coba kita renungkan. Bukankah jalanan tak ada yang betul-betul rata dan lurus? Terkadang jalan yang kita lalui penuh onak dan duri. Adakalanya jalanan menanjak dan menguji seberapa kuat tekad kita untuk terus melakukan pendakian. Ada saatnya jalanan menurun, ketika kita tidak berhati-hati memegang kendali justru akan membuat jatuh tersungkur. Pada bagian tertentu jalanan begitu berliku, menuntut kewaspadaan extra agar kita tak terperosok akibat keluar jalur.

Seperti itu juga ketika kita sudah memulai langkah menuju kesuksesan yang kita impikan. Bukan hal mudah untuk menggapainya. Apalagi ketika rintangan mulai datang menghadang. Ada yang meragukan keseriusan kita, ada yang menertawakan keinginan muluk kita. Ketika kita mudah terpengaruh oleh kata-kata sumbang, menjadi mundur karena omongan orang, maka bisa dipastikan kita tak kan pernah sampai pada cita-cita yang kita tuju. 

Tak perlu membenci mereka. Karena kita  masih memerlukan mereka untuk menjadi penonton yang menyaksikan kesuksesan kita kelak. Meski entah bagaimana ekspresi mereka nantinya saat kita merayakan kemenangan atas hal yang kita perjuangkan.

Tak hanya itu, terkadang tantangan yang kita lihat juga tak kalah berat. Keterbatasan pengetahuan, persaingan yang ketat. Semakin menguji kita seberapa besar nyali kita menaklukkan semuanya. Di sinilah kita berhadapan dengan musuh terbesar. Bukan siapa-siapa, bukan apa-apa dan bukan yang lainnya. Karena musuh terbesar itu adalah "diri sendiri". Keterbatasan pengetahuan dapat dikalahkan dengan mau bertanya dan terus belajar. Persaingan yang ketat dapat disikapi dengan terus bertahan, sabar berada dalam antrian, dan berupaya untuk merangsek maju. Dan itu semua kuncinya adalah menaklukkan diri sendiri.

Menuju kesuksesan tak harus tergesa-gesa. Karena kesuksesan yang instan terkadang justru menghawatirkan. Berbeda dengan yang mengalami proses tumbuh. Seperti halnya pohon. Sebelum menjulang ke atas, dia menguatkan akar terlebih dahulu. Membuat pertahanan dengan cengkraman erat ke dalam bumi, baru dia tumbuh tinggi ke atas. Maka, ketika pohon yang tinggi harus berhadapan dengan angin yang semakin besar, dia hanya meliuk secara dinamis, bergerak mengikuti kemana arah angin, dan sesudahnya masih bisa berdiri dengan kokoh, dengan gagah, tanpa harus tumbang meski badai yang menerjang.

Teruslah berproses dengan sabar. Melewati semua tahapan yang harus dilalui. Melibas rintangan, melambung tinggi melebihi tantangan yang diberikan. Meski itu melalui proses berkali-kali. Karena saat kita terjatuh, kita masih mempunyai kesempatan untuk bangkit kembali. Jatuh bukan berarti kalah. Karena kalah yang sesungguhnya adalah ketika kita memutuskan untuk menyerah dan berhenti melangkah.

Selamat berproses,
Semoga suatu saat kita bisa berjumpa di puncak.
Salam.


Minggu, 22 Oktober 2017

MENGAPA KITA HARUS MEMULAI LANGKAH


Pada awalnya setiap manusia adalah juara. Cobalah ingat kembali proses terjadinya manusia. Ketika ribuan sel sperma berenang dalam tube valopi, mereka berjuang untuk menjadi pemenang sehingga bisa membuahi sel ovum. Sampai pada terciptanya kita, berarti asal-usul kita adalah sel sperma juara. Maka sudah selayaknya kita melanjutkan perjuangan kita di dunia dengan bermental juara. 

Mengapa terkadang mental juara kita seolah menyusut?
Awal kita terlahir ke dunia, kita tak pernah tahu siapa dan bagaimana orang tua kita. Ada yang beruntung mendapatkan orang tua berkecukupan secara finansial sekaligus berlimpah kasih. Namun ada juga yang tidak seberuntung mereka, karena kehidupannya jauh dari kata sejahtera bahkan tak mendapatkan perhatian juga kasih sayang. 

Namun apapun dan bagaimanapun kondisi orang tua kita, tak selayaknya kita merasa sebagai manusia yang malang. Karena perjuangan harus dimulai dari diri kita sendiri. Tak peduli dengan kondisi kita yang sederhana atau bahkan masih sekedar apa adanya.

Selain itu, Kerapkali, ketika kita memperhatikan orang-orang yang ada di sekitar, kita dibuat terkagum-kagum sampai kita merasa bahwa kita terlalu kecil. Tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mereka. "Aku mah apa atuh" sebuah kalimat yang mampu mengkerdilkan mental kita, apalagi jika ia sudah begitu melekat di alam bawah sadar.

Saatnya memutuskan memulai langkah awal.
Merugi sekali jika kita tumbuh menjadi orang yang tak berani bermimpi. Karena itu artinya, dalam waktu yang berputar, dia tak akan berupaya untuk menjadi sosok yang lebih berharga. Maka mari mulai dari membangun impian. Impian yang ditulis dan sering didengungkan akan menjadi afirmasi alam bawah sadar dan menjadi tenaga endogen untuk diwujudkan.

Bermimpilah dengan mata tertutup. Tapi wujudkanlah dengan mata terbuka. Artinya kita tak cukup hanya memiliki impian dan berharap impian itu akan terwujud dengan sendirinya. Impian yang kita dambakan harus melalui proses perjuangan untuk menggapainya. Ambilah keputusan secara berani untuk memulai langkah.

Tak terlalu penting seberapa jauh jarak yang ingin kau tempuh. Tak lagi penting seberapa tinggi gunung yang ingin kau daki. Yang terpenting adalah mulailah melangkah dan teruslah melangkah.

Memulai langklah dengan tekad dan do'a
Langkah pertama memang tak mudah. Langkah awal memang terkadang berat. Untuk itu awalilah dengan tekad yang bulat. Karena tekad itu akan menjadikanmu mantap dalam melangkah. Karena tekad itu akan menjadikanmu mampu melangkah dengan gagah.

Juga jangan lupa untuk berdo'a. Meminta ridlo pada Yang Maha Kuasa. Karena ketika kau yakin dengan tekadmu dan mendapat restu dari-Nya maka semesta dan seluruh isinya akan memberi jalan dan mendukung apa yang kau upayakan dan kau lakukan.

Selamat menempuh perjalanan awal. Semoga beruntung meraih kemenangan dari apa yang sedang kau perjuangkan. 

Jumat, 20 Oktober 2017

BERPACU DENGAN WAKTU




Gambar terkait 

By: An Purbalien

Matahari terbit di ufuk timur, kemudian kita rasakan panasnya menyengat kulit dan tiba-tiba saja senja sudah datang menyapa dengan ditutup malam. Rasanya hari begitu cepat berganti. Minggu demi minggu berlalu berganti bulan dan juga tahun.

Umur beranjak menua dan raga semakin renta. Banyak yang menyesalkan karena belum mampu berbuat banyak padahal kesibukan seolah sudah sangat menyita waktu, pikiran dan tenaga. Seolah kita dilibas oleh tajamnya sang waktu.

Tak jarang kita sudah atur sedemikian rupa, nyatanya kita masih sering merasa kalah. Setumpuk pekerjaan menunggu di depan mata, urusan rumah tangga yang tak ada habisnya, permasalahan sosial yang juga menyita perhatian kadang membuat beban di pundak kita seolah bertumpuk-tumpuk dan terasa memberatkan. 

OK, Guys...
Ambil napas sebentar, hempaskan semua yang membebanimu bersama hembusan karbon dioksida dari lubang hidungmu. Rilekskan anggota tubuhmu dan bacalah sebuah cerita yang akan kukisahkan.

Ada seorang tukang reparasi jam. Dia berbisik pada jam tangan mungil yang sedang di genggamnya.
“Wahai jam antik, mulai sekarang kau harus rajin ya. Kau harus berdetak sebanyak 525.600 kali dalam setahun.”
“Ooooh, berat sekali beban hidupku, Pak tua,” keluh jam tangan itu.
Pak tua terkekeh mendengar jawaban jam mungil itu.
“Kalau begitu, kau usahakan bergerak 43.200 kali dalam sebulan ya.”
“Tidakkah kau lihat jarumku begitu kecil, pak tua? 43.200 kali itu jumlah yang sangat besar bagiku. Pasti aku akan sangat kelelahan,” jam mungil itu kembali mengelak.
“Kalau begitu 1.440 kali dalam sehari deh.”
“Hehe, itu juga masih cukup berat bagiku, Pak tua.”
“Kalau begitu bisakah kau bergerak sekali saja setiap detiknya?”
“Wow, kalau itu aku pasti bisa, Pak tua,” jawab jam tangan dengan riangnya.

Sejak itu si jarum jam terus bergerak setiap detiknya. Tak terasa dalam satu hari dia sudah bergerak sebanyak 1.440 kali, dalam satu bulan dia sudah bergerak sebanyak 43.200 kali dan dalam setahun dia sudah bergerak sebanyak 525.600 kali.

Bagi kita yang masih kesulitan mengatur management waktu kita. Merasa beban hidup kita terlalu berat oleh tugas yang menumpuk. Bahkan merasa dua puluh empat jam dalam satu hari masih belum cukup untuk menyelesaikan tugas-tugas kita.

Mari rubah mindset kita. Kita tiru sang jarum jam yang tak merasa terbebani bergerak satu kali dalam setiap detiknya. Jadi…. Jangan lagi terlalu dipikirkan tugas-tugas yang sudah menunggu untuk kita selesaikan. Karena memang tugas-tugas tersebut tak akan pernah selesai hanya dengan dipikirkan saja, kan?

Tapi, cobalah untuk terus mengisi waktu kita. Pada setiap detiknya kita terus bergerak dan bertindak secara nyata. Ringankan beban, cukup dengan bertanya saat ini apa yang bisa saya kerjakan nih? Dan kemudia take action!

Setelah itu kita akan terkejut karena ternyata berbagai tugas yang seolah mustahil untuk diselesaikan akhirnya dapat selesai juga.
So, yuk semangat guys!
Kita cukup menaklukkan setiap detik yang berjalan kok. Dan semoga kita termasuk para pemenang yang beruntung.

Salam semangat!!!



Kamis, 19 Oktober 2017

TIPS MENANGKAL MALAS MENULIS DI BLOG

Kamis, 19 Oktober 2017

Selamat datang di blog baruku. Blog yang baru aku buat satu bulan yang lalu, dan aku anggurin lama. Ibaratnya rumah, rumahku masih kosong melompong, bahkan dinding-dindingnya saja masih polosan belum aku cat apalagi didekorasi.

Tapi, it's OK lah. Kalau gak dimulai sekarang kapan lagi? Iya kan?
Oh ya, sebagai awal aku isi dengan "Tips Menangkal Malas Menulis di Blog".
Widiiiiiih, berani banget ya?
Ssssttttt, ini tips buat ane pribadi!
Tapi kalau bermanfaat juga buat kalian ya Alhamdulillah.

So, apa saja sih rangkaian tips yang bakal kutulis?
Ini, nih...

1. Menggali Inspirasi dari yang Terdekat

     Wih, ngomong begini kayaknya enak banget, ya? Padahal dalam keseharian bagi kita para blogger pemula kadang susah banget kan nyari ide?
So, coba deh pakai tips ini. 
Apa yang pertama kali kamu ingat setelah bangun tidur?
Nah jadikan itu inspirasi alias ide kita hari ini. Setelah ide itu berhasil kita tangkap, coba deh sekilas cari referensi terkait hal itu. Kayaknya dengan dukungan referensi kualitas tulisan kita bakal semakin berisi.

2. Izinkan Jemarimu Menari Indah di atas Keyboard
     Ayo, mulailah mengetuk tuts-tuts keyboard komputer atau HP mu. Ide yang sudah ditangkap dan referensi pendukung yang sudah dibaca tuangkan dalam tulisan. Semakin terbiasa, lama-kelamaan kita akan merasa layar monitor lebih lelet dari huruf perhuruf yang kamu ketikkan di atas Keyboard. Bahkan jemarimu kalah cepat oleh kata-kata yang seolah berloncatan dari otak dalam tempurung kepala. Jadi, cukup izinkan jemarimu berdansa indah menuliskan rangkaian kata yang menari-nari di kepala.

3. Rasakan Kelegaan Saat Kau Bisa Menyelesaikan Tulisanmu 
    Saat hal yang memenuhi kepalamu sudah kau tuangkan, coba rasakan adanya kelegaan yang kau temukan. Selain lega, mungkin bisa ya diibaratkan Torn penampung air yang sudah dikuras. Air menjadi lebih bersih dan lancar. Seperti itu juga kepala kita, ketika sudah cukup bersih karena banyak ganjalan yang sudah kita lepaskan, ide-ide lainnya menjadi lebih banyak.

4. Nikmati Rangkaian Kata yang Berhasil Kau Susun
    Jangan alergi untuk membaca tulisan sendiri. Ibaratnya jika kita membuat kue tetapi kita sendiri enggan untuk mencicipi, apa orang lain Sudi untuk memakannya? 
Yups, ketika kita membaca tulisan kita terkadang kita sendiri terkejut lho, hehe masa sih ini tulisan saya? 
Ups. Tapi bukan untuk mengagumi diri apalagi berbangga diri ya. Kita tetap harus kritis sehingga editing bisa tetap dilakukan dengan baik. Dan kalau perasaan seperti itu sempat terlintas maka jadikan itu sebagai cambuk agar lebih semangat menulis dengan kualitas yang lebih bagus.

5. Rayakan Kesuksesanmu Menulis 
    Apakah kesuksesan itu harus sesuatu yang WAH?
Hei, kita boleh kok memasang standar kesuksesan versi kita. Ketika kita dalam satu hari berhasil memposting satu tulisan, anggap saja itu bagian dari kesuksesan yang telah kita raih karena setidaknya kita telah berhasil menaklukkan dan mengalahkan musuh bebuyutan kita yaitu kemalasan. 
So, karena kita telah sukses maka kita berhak dong buat merayakannya. Tak harus mahal, kita bisa merayakan dengan cara yang sederhana yang penting bisa membuat kita bahagia.

6. Ulangi Kesuksesan Kemarin di Hari Ini
    Jangan larut dalam euforia kemarin. Hari ini kita harus lebih semangat untuk menaklukkan kemalasan kita yang kemaren berhasil kita kalahkan. Mari membuat hari ini lebih sukses dari hari kemarin dengan semakin meningkatkan kualitas tulisan kita. Eeeh siapa tahu suatu saat ada yang melirik tulisan kita.
Aamiin.


Dah ya, itu aja dulu. In Syaa Alloh disambung lain waktu.

Kamis, 31 Agustus 2017

TIPS MENGASAH LOGIKA, ETIKA DAN ESTETIKA



[Kamis, 31 Agustus 2017]

Oleh: An Purbalien

Miris ketika sampai ada orang yang berkomentar “Seperti anak tidak dididik saja!” Ungkapan itu adalah sebuah tamparan. Hanya sebatas itukah keberhasilan pendidikan di keluarga, sekolah dan lingkungan di mana si anak bersosialisasi?

Faktanya, banyak anak-anak yang mengekpresikan dirinya dengan terlalu naif. Tidak mempedulikan masa depannya, keselamatannya, nama baiknya, kesopanan yang menjadi norma dan keindahan lingkungan sekitarnya.

Untuk itulah, ada tiga aspek bagian dari diri mereka yang harus di asah, yakni logika, etika dan estetika.

Mengasah logika. Apa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya? Semua makhluk hidup bernapas, makan, istirahat dan lain sebagainya. Tapi yang menjadikan manusia special adalah, karena manusia mempunyai akal. Dengan akal seharusnya manusia bisa membedakan yang benar dan salah, yang baik dan yang buruk. Yang benar dan baik itu untuk diikuti dan dilaksanakan. Yang salah dan buruk adalah untuk dijauhi dan ditinggalkan.

Sementara dalam keseharian anak-anak kita, apakah bekal “akal” yang diberikan oleh Tuhan itu sudah dimanfaatkan secara maksimal? Kita ambil contoh yang mudah saja. Di sekolah. Anak-anak kita dibebani dengan aneka mata pelajaran yang sangat bervariasi, dengan buku paket yang tebal-tebal, dengan banyak teori yang menuntut untuk dihafalkan. Pencapaian ranah kognitif didominasi baru sebatas pengetahuan.

Untuk perihal etika justru paling menghawatirkan. Di tengah arus informasi yang semakin mengglobal. Hantaman bertubi-tubi datang dari segala penjuru. Benteng pertahanan yang belum kuat, rasa penasaran yang tinggi, ketidaktahuan, rasa penasaran untuk meniru. Sementara berbagai informasi yang ada tidak semuanya mengandung nilai positif.

Semakin banyaknya kasus yang mengabaikan norma. Peraturan sengaja di langgar, egoisme semakin ditonjolkan, kesantunan pada yang lebih tua tak lagi dipedulikan.

Untuk itu rasanya perlu segera dicari solusi dari permasalahan-permasalahan tersebut. Setidaknya anak-anak yang mengenyam pendidikan tidaklah sama dengan orang yang sama sekali tidak terdidik. Dan hal itu paling mudah terlihat dari perilaku dan sikap mereka, menunjukkan sebagai sosok terdidik.

Berikut beberapa tips yang dapat di terapkan:

1.      Mengasah logika siswa dengan cara menggugah logika mereka untuk berpikir. Jadi siswa tak hanya dijejali teori, tetapi hal yang sedang mereka pelajari di dekatkan pada dunia nyata. Di ajak mengetahui manfaat dan yang harus dilakukan setelah mempelajari materi tersebut.
 
2.      Tergabung dalam sebuah organisasi juga akan memotrivasi siswa menggunakan logikanya. Karena dalam berorganisasi kerapkali dihadapkan pada permasalahan-permasalah baru yang menuntut mereka untuk berpikir.
 
3.      Mengasah etika diantara dengan mengenalkan dan mendekatkan siswa pada Tuhan. Inbadah-ibadah yang ada tidak hanya menjadi ritual dan ceremonial, tetapi mengenalkan siswa untuk merasakah kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.
 
4.      Selanjutnya mengasah etika dilakukan dengan mengajak siswa lebih peduli. Peduli pada diri sendiri, lingkungan dan orang lain. Karena hakekatnya ketika kita berlaku baik pada orang lain dan lingkungan, kita sedang berlaku baik pada diri sendiri. 
 
5.      Mengasah estetika. Ini akan memberikan sentuhan warna yang indah bagi kehidupan. Setiap anak punya kelebihan. Maka hendaknya potensi itu difasilitasi dan dijembatani agar terasah. Ketika seseorang mempunyai kontribusi, harga dirinya akan meningkat, dan dia akan bisa lebih menghargai hidup.

Jadi, sebagai orang yang lahir lebih dulu, baik itu dalam posisi kita sebagai orang tua, guru, maupun warga masyarakat, tak seharusnya kita berpangku tangan ap[alagi menutup mata dari semua permasalah yang ada. Mari bersama-sama mengasah dan mengembangkan logika, etika dan estetika mereka.


Senin, 07 Agustus 2017

SEPERTI AIR MENGALIR

Oleh : An Purbalien



Air
Yang tetap utuh pada volumenya
Yang tetap setia pada siklusnya
Adakah dia bertanya
Hari ini dia berperan sebagai apa?

Hujankah?
Sumber mata airkah?
Sungaikah?
Atau justru air got kah?

Dia tak pernah bertanya
Apalagi menawar ketentuan-Nya
Dia tunduk dalam takdir-Nya
Dalam tasbih ketaatannya

Tuhan.....
Tuntun jiwa ini untuk meniru air
Yang ikhlas menerima setiap catatan takdir
Jalaninya sebagai sarana berdzikir

Air
Dalam perannya sebagai apa saja
Suatu saat dalam kesabarannya
Akan mencapai samudra

Kita
Manusia
Dalam perannya sebagai apa saja
Suatu saat dengan kesabaran didada
Semoga bisa mencapai makrifat pada-Nya