[Kamis, 31 Agustus 2017]
Oleh: An Purbalien
Miris
ketika sampai ada orang yang berkomentar “Seperti anak tidak dididik saja!”
Ungkapan itu adalah sebuah tamparan. Hanya sebatas itukah keberhasilan
pendidikan di keluarga, sekolah dan lingkungan di mana si anak bersosialisasi?
Faktanya,
banyak anak-anak yang mengekpresikan dirinya dengan terlalu naif. Tidak mempedulikan
masa depannya, keselamatannya, nama baiknya, kesopanan yang menjadi norma dan
keindahan lingkungan sekitarnya.
Untuk
itulah, ada tiga aspek bagian dari diri mereka yang harus di asah, yakni
logika, etika dan estetika.
Mengasah
logika. Apa yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya? Semua makhluk hidup
bernapas, makan, istirahat dan lain sebagainya. Tapi yang menjadikan manusia
special adalah, karena manusia mempunyai akal. Dengan akal seharusnya manusia
bisa membedakan yang benar dan salah, yang baik dan yang buruk. Yang benar dan
baik itu untuk diikuti dan dilaksanakan. Yang salah dan buruk adalah untuk
dijauhi dan ditinggalkan.
Sementara
dalam keseharian anak-anak kita, apakah bekal “akal” yang diberikan oleh Tuhan
itu sudah dimanfaatkan secara maksimal? Kita ambil contoh yang mudah saja. Di sekolah.
Anak-anak kita dibebani dengan aneka mata pelajaran yang sangat bervariasi,
dengan buku paket yang tebal-tebal, dengan banyak teori yang menuntut untuk
dihafalkan. Pencapaian ranah kognitif didominasi baru sebatas pengetahuan.
Untuk
perihal etika justru paling menghawatirkan. Di tengah arus informasi yang
semakin mengglobal. Hantaman bertubi-tubi datang dari segala penjuru. Benteng pertahanan
yang belum kuat, rasa penasaran yang tinggi, ketidaktahuan, rasa penasaran untuk
meniru. Sementara berbagai informasi yang ada tidak semuanya mengandung nilai
positif.
Semakin
banyaknya kasus yang mengabaikan norma. Peraturan sengaja di langgar, egoisme
semakin ditonjolkan, kesantunan pada yang lebih tua tak lagi dipedulikan.
Untuk
itu rasanya perlu segera dicari solusi dari permasalahan-permasalahan tersebut.
Setidaknya anak-anak yang mengenyam pendidikan tidaklah sama dengan orang yang
sama sekali tidak terdidik. Dan hal itu paling mudah terlihat dari perilaku dan
sikap mereka, menunjukkan sebagai sosok terdidik.
Berikut
beberapa tips yang dapat di terapkan:
2. Tergabung dalam sebuah organisasi juga akan memotrivasi siswa menggunakan logikanya. Karena dalam berorganisasi kerapkali dihadapkan pada permasalahan-permasalah baru yang menuntut mereka untuk berpikir.
3. Mengasah etika diantara dengan mengenalkan dan mendekatkan siswa pada Tuhan. Inbadah-ibadah yang ada tidak hanya menjadi ritual dan ceremonial, tetapi mengenalkan siswa untuk merasakah kehadiran Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.
4. Selanjutnya mengasah etika dilakukan dengan mengajak siswa lebih peduli. Peduli pada diri sendiri, lingkungan dan orang lain. Karena hakekatnya ketika kita berlaku baik pada orang lain dan lingkungan, kita sedang berlaku baik pada diri sendiri.
5. Mengasah estetika. Ini akan memberikan sentuhan warna yang indah bagi kehidupan. Setiap anak punya kelebihan. Maka hendaknya potensi itu difasilitasi dan dijembatani agar terasah. Ketika seseorang mempunyai kontribusi, harga dirinya akan meningkat, dan dia akan bisa lebih menghargai hidup.
Jadi,
sebagai orang yang lahir lebih dulu, baik itu dalam posisi kita sebagai orang
tua, guru, maupun warga masyarakat, tak seharusnya kita berpangku tangan
ap[alagi menutup mata dari semua permasalah yang ada. Mari bersama-sama
mengasah dan mengembangkan logika, etika dan estetika mereka.