BEROBAT
By : An Purbalien
Seorang dokter sedang mendiagnosa pasiennya, "Keluhannya apa, Pak?"
"Mual, Pak dokter," jawab si pasien, "kadang sembelit, kadang diare dan nafsu makan saya menghilang," kata si pasien melanjutkan jawabannya.
Pak dokter terlihat mengangguk-angguk sambil menuliskan beberapa resep.
"Jadi saya sakit apa, Dok?" tanya si pasien ingin tahu.
"Apendisitis," jawab Pak Dokter pendek.
"Yes! Asyik!!!" Si pasien justru kegirangan.
"Lho, anda langsung sembuh?" Pak Dokter menatapnya heran.
"Hehe, belum Dok, kan belum minum obat... Anu saya lagi seneng aja, penyakit saya keren! Nggak seperti penyakit orang lain." Si pasien senyum-senyum membayangkan ketika orang-orang menanyakan nama penyakitnya.
"Oh, apendisitis itu radang usus buntu," kata pak dokter sambil menunggu si apoteker menyiapkan obat.
Setelah peracikan obat selesai, pak dokter memberitahukan aturan minum obat si pasien.
"Ini obatnya diminum 3x sehari."
"Baik, Dok. Berarti pagi siang sore ya, Dok?"
"Boleh, tapi bedug jangan di makan ya..."
"Oh, siang hari nggak boleh ya Dok? Kalau begitu saya ganti pagi sore malam Dok."
"Boleh kok. Yang penting bedug jangan di makan. Kalau bedugnya kamu makan ya nanti marbotnya bingung pas mau masuk waktu adzan!"
"Ah Dokter becanda....!"
#kangenFF
KOMPAKNYA ISTRI PERTAMA DAN KEDUA
Oleh : An Purbalien
Hadirin pada sebuah undangan resepsi pernikahan dibuat haru. Beberapa diantaranya sampai meneteskan air mata. Betapa tidak? Acara pernikahan yang mereka hadiri kali ini benar-benar berbeda.
Sapi'i lelaki berkulit legam dan berperawakan tambun pendek itu akhirnya menikah juga. Bukan satu, malah dua sekaligus! Dan kedua istrinya cantik semua.
Tiba-tiba sesuatu terjadi, salah satu istri Sapi'i ambruk di pelaminan. Semua cemas. Sapi'i pun langsung memeluk istrinya. Jari telunjuknya dia dekatkan ke hidung bangir si Juwita untuk memastikan bahwa istrinya masih bernapas.
Digoyangkan tubuh istrinya dan dibisikkan kata-kata mesra agar terbangun, tapi si istri tetap tak bergeming. Karena sedih, Sapi'i menangis.
Diam-diam si istri membuka matanya. Dilihatnya si suami menangis dengan mata terpejam.
Kemudian dia melirik madunya, matanya berkedip-kedip memberi isyarat. Dia segera paham kode dari si madu.
"Abang sih nggak mau pilih salah satu diantara kite. Malah jadinya gini kan, Bang. Poligami itu selalu menyimpan kesedihan!" kata Fatimeh dengan nada menyesalkan.
"Habis Abang bingung musti milih siape? Dua-duanya Abang cinte!" Jawab Sapi'i membela diri.
"Maruk banget si Abang!" Fatimeh mencibirkan bibirnya, "Jamileh, bangun! Dramanya sudah cukup." Fatimeh mencolek kaki madunya.
Jamileh segera bangun diiringi tatapan bingung sang suami.
"Apa nih maksudnye?" Sapi'i menatap kedua istrinya bergantian.
"Untung saye dan Mpok Fatimeh dah berunding dan mencapai kesepakatan, Bang." Jamileh akhirnya membuka suara.
"Trus kesepakatannya apa tuh?" tanya Sapi'i penasaran.
"Abang gak usah repot-repot bikin dua kamar. Kite bakal tinggal di satu kamar saja." Jamileh melanjutkan ceritanya.
Sapi'i tersenyum-senyum bangga. Ternyata kedua istrinya kompak banget. Terbayang sudah sebuah keluarga poligami yang damai dan sejahtera.
"Iye Bang, kite bertiga bakal tidur dalam satu kamar. Nanti Fatimeh di kanan, Jamileh di kiri," ucap Fatimeh dengan nada manja.
"Oh, berarti kite tempurnya gantian nih? Abang jadi bingung, mau yang kanan apa yang kiri dulu." Sapi'i tersenyum-senyum penuh arti.
"Ya enggak, Bang. Aye dan Mpok Fatimeh bakal konsisten. Aye tetap di sisi kiri Abang dan Mpok Fatimeh di sisi kanan Abang," kata Jamileh mencoba menerangkan.
"Iya nih. Abang tuh musti bangga punya dua istri yang siap setia ada disamping Abang!" Fatimeh menambahkan.
"Trus ngatur jadwal yang diatas atau di bawah Abang gemana nih?"
"Ya enggak ada, Bang!" jawab kedua istrinya kompak.
Sapi'i langsung menepuk dahinya pusing, "Wah, sayang nih dada bidang Abang tidak digunakan untuk bersandar, kan mubadzir!"
"Tidak perlu!" jawab kedua istrinya kompak bak di komando.
"Kalau begitu Abang ijin nambah istri satu lagi ya, kasihan nih burung Abang nganggur...," pinta Sapi'i dengan ekspresi memelas.
"Tidak boleh! Kalau sekedar memelihara burung Abang, kite berdue cukup kok. Pokoknya kalau Abang berani macem-macem, apalagi sampai berani memperlihatkan burung Abang ke wanita lain. Siap-siap aja Bang!" Jamileh mengedipkan mata pada Fatimeh.
"Kite bakal potong burung Abang, trus kite jadikan gantungan kunci, biar semua pada liat, burung Abang besar apa kecil!" Ancam mereka, kompak dan tegas.
Akhirnya Sapi'i hanya bisa meraung-raung dengan hati pilu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar